“hmm.. kamu tau Li, tempat terindah di dunia ini.. tempat terindah dimana kita bisa ngelupain semua kesibukan kita, semua masalah-masalah kita even for a while..?”
“umh..dimana? di deket orang yang kita sayangin?”
“yup.. bener sekali” kataku, hmm.. gadis yang pintar batinku
“Bener juga ya Ri.. kadang aku juga begitu, Aku seneng-seneng aja nungguin dia nyelesein mengetik naskah saat dia dikejar deadline.. itu artinya aku bakalan dicuekin selama dia blom slesei ngetik tapi.. aku enjoy aja diem nungguin disamping dia” Ujarnya bersemangat
“Itu karena kamu merasa nyaman kan di samping dia? walopun cuman diem nggak ngobrolin apapun tapi kalo di deket orang yang kita sayangin kita akan merasa nyaman “ tanyaku meyakinkan
“He`eh, Ri..I know these are crazy feeling that I have for him..”
“Nggak cuman kamu Li.. Dia juga, kamu mencintai orang di waktu yang salah dan ia juga jatuh cinta padamu diwaktu yang salah. Harusnya kalian bertemu saat kalian masing-masing sedang sendiri. Dan dia.., aku yakin dia juga sama sedihnya denganmu. Untung kamu tidak memaksa cinta yang kamu punya kepadanya dan dia juga tidak memilih untuk menghancurkan keluarga yang dia punya. Ya Li, cinta itu butuh pengorbanan dia kedua pihak”
“Hehhh ribet. I just want him to be happy. And if he’s happy with his wife, then thats enough for me. But if not, aku bakal sedih banget“. Wajahnya berubah sedih. Ia melihat lagi ke jendela, seakan berusaha mengusir kesedihan
“Laki-laki yang bisa bikin aku nggak sanggup baca buku yang pernah dia beliin buat aku karena aku selalu inget hari saat kita sama-sama beli buku itu“ lanjutnya
“Emang buku apaan ?” tanyaku. “Bagaimana cara jatuh cinta dengan pria yang sudah beristri ?” sambungku dengan nada meledek
“4 bulan yang lalu kita jalan ke toko buku, dan dia maksa-maksa gitu mo beliin aku buku The Palace of Illusions” Lia menjelaskan
“o yah?”
“iya, dan kamu tau? Sampe sekarang buku itu belum juga aku sentuh tergeletak aja di meja kerjaku”
“lhoh.. knapa bisa gitu Li?”
“heff.. aku nggak sanggup untuk membacanya Ri..”
aku tersenyum trus berkata “ jadi kamu biarkan aja Buku itu tanpa kamu membacanya?”
“Aku takut membuka luka Ri.. aku pasti bakalan keinget dia terus.. aku nggak bisa Ri..”
Kulihat mata Lia udah memerah, sedetik kemudian air matanya mulai menetes
“Ri.. kadang aku menyesal, knapa sih aku terlambat ketemu sama Danar..” suaranya terdengar mulai parau
“pssst.. jangan ngomong begitu Li.. no regret !! everything happened have a reason.. kamu harus tau itu Li..”
“Yeahh.. kadang aku juga berfikir, Tuhan yang mengirimkan Danar buat aku..”
“….”
“hmm.. Ri, should I still keep for hoping or should I let him go??” Tanya Lia
“Li.. aku nggak bisa maksa, kamu udah dewasa dan kamu seharusnya udah tau apa yang harus kamu lakuin..”
“makasih banget ya Ri.. udah dengerin curhatku”
“ur welcome.. aku percaya sama kamu Li.. kamu pasti kuat, jangan sedih lagi ya.. aku percaya apapun keputusanmu itu yang terbaik buat kamu..” aku berusaha meyakinkan Lia
“baek-baek ya Li,..kamu tau kan dimana harus menghubungi aku kalo ada apa-apa?” kataku kemudian ketika akan berpisah di pintu café
“He`eh.. makasih banget Ri, see ya Ri.. take care” jawabnya kemudian sambil menuju ke mobilnya
“You too..”
“Makasih udah nemenin aku ngoceh soal topik yang itu-itu lagi. Tentang orang yang itu-itu lagi” tambahnya
Terima kasih dalam hatiku. Setidaknya aku bisa lebih tahu jalan pikiran seorang wanita. Dan hari inipun aku melihat dunia dari jendela yang kamu buka. kadang aku cuma bisa menemani kamu bercerita. Kalau kamu menangis, mungkin aku gak bisa bikin kamu tertawa, tapi setidaknya aku bisa bantu kamu ngapus airmata. Dan kalau kamu tertawa, aku bisa menemani kamu tertawa, bahkan tertawa yang pahit sekalipun
3 Juni 2005, Dedicated to devil, the ghost I love most
Leave a Comment